SlideShow

Tampilkan postingan dengan label samudera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label samudera. Tampilkan semua postingan
0

protes dari perut yang lapar



kami orang-orang lapar tak perlu puasa
senantiasa tiap hari menderu lapar.

kami orang-orang lapar tak usah kalian jejali ayat-ayat suci
kami perlu makanan.

kami orang-orang lapar tak mau kalian atur
kami giat mengatur diri untuk tetap hidup.

kami orang-orang lapar tak butuh sumbangan
kami ingin kalian sadar kami telah dimiskinkan.

rasa lapar yang akrab ini
membuat kami mengerti nilai kemanusiaan
hubungan manusia dengan manusia
bukan hubungan manusia di atas mata uang

kelaparan ini milik orang-orang lapar di afrika, amerika, eropa, asia, australia.
kematian orang-orang lapar di seluruh dunia
berada di dalam perut gendut orang-orang kaya
yang menguasai pabrik-pabrik,
bercokol di bank-bank,
mencitra di media-media,
dan menahta di kursi kekuasaan:
ada bush asik memberi makan kiloan daging kepada anjing-anjingnya
gordon brown mengelap kilauan emas mahkota raja
ehud olmert memerkosai perempuan-perempuan palestina
jacob zuma menumpuk pundi-pundi uang di tengah anak-anak lapar afrika
juga yudoyono laksana satrio paningit sibuk merias wajah menghadap cermin
sambil berpikir tentang siasat untuk menipu rakyatnya,
menjual semua sumber energi dan daya

mereka bernaung di dalam kerajaan modal
kekuasaannya menggurita
menggenggam bola dunia
menguras energi kehidupan
sampai titik lapar manusia-manusia

rasa lapar kami tak akan membuat kami mati
kami mati sejak dulu
sejak kami tak lagi mencangkul tanah
sejak kami tak lagi bermukim
sejak kami tak lagi melaut
sejak kami hanya bagian dari mesin-mesin pabrik

kau bunuh kami pun, para penguasa uang dan bangsa,
tak membuat kami hilang
karena rasa lapar ini milik orang banyak di seluruh tanah air di muka bumi ini
seabadi gelora rakus kalian.

kalian tahu, seberapa gemuruhnya rasa lapar di perut ini?
segemuruh hentakan kaki kaum tani, buruh, nelayan, miskin kota, perempuan miskin, anak miskin, dan pemuda.
rasa lapar ini akan menembus keluar dari kulit perut kami yang semakin menipis
keluar dengan pukulan palu para kaum buruh
dan sabetan arit kaum tani
di dalam tarian perlawanan internasionale
tertuju pada perut-perut gendut rakus kalian.
sebab, bendera merah sudah kami kibarkan.
sebagian menjadi kain kafan jenasah kawan-kawan kami yang mati kelaparan.


heru suprapto
grogol, 13 januari 2009.
dipublikasikan pertama kali di pena rakyat edisi juli 2009.     
0

bangun! langkahkan kakimu menuju Revolusi!

aku di sini telah terbangun
dari dongeng yang selama ini meninabobokan kita
sejak orde baru
hingga kini
orde paling baru.

“ninabobo, oh… ninabobo…
kalau tidak bobo digigit nyamuk”

hei!
kamu yang di sana.
apa sudah bangun?
buka matamu!
lihat!
kadal-kadal berwajah ular
menampilkan kulit yang sama dengan kita.
selalu menyatakan pro RAKYAT padahal pro RAYAP
masih bersarang di sana:
di istana negara, di rumah rakyat, di gedung berpilar palu adil, di markas keamanan, di barak prajurit, di istana daerah,
di pendopo-pendopo desa dan kampung, di rumah RT …
hingga di sekitar kita
merayapi kayu-kayu yang menahan atap rumah kita.
sedangkan loreng-loreng bersenjata yang dulu membebaskan rakyat dari penjajah
bukan lagi milik rakyat,
milik mereka yang menghisap tetek ibu-ibu
menangisi nasi aking untuk makan hari ini,
yang menggembosi perut-perut busung lapar,
yang memerkosa hak anak untuk sekolah,
yang mempersulit pelayanan kesehatan untuk rakyat miskin,
yang merobohkan paksa tempat tinggal,
yang merampas lahan pekerjaan kita di trotoar dan sarana umum,
yang mematahkan roda becak-becak,
yang mengerangkeng perempuan,
yang menjejali kotoran, lumpur gas, dan racun industri
ke dalam organ pencernaan kita,
yang membodohi kita dengan aksara-aksara bermakna semu dan angka-angka palsu,
yang sekali lagi,
dan lagi,
meninabobokan kita.

“ninabobo, oh… ninabobo…
kalau tidak bobo digigit nyamuk”

eitt…
jangan terlelap dan terlena.
bangun!
langkahkan kakimu!
jika tidak,
sejarah kemarin dan hari ini di tangan mereka.
masa depan bukan milik kita.

kita di sini menjala semangat perubahan
yang telah lama ditekan penguasa-pengusaha.
di dalam barisan ini
kita simpan jejak langkah yang lalu di balik bantal.
di lingkaran ini
kita lubangi payung baja yang telah lama membuat bunga impian layu.
langkah kaki ini yang dulu terjerembab karena takut melangkah
kini bisa berlari.
harapan-harapan yang dulu dianggap tak mungkin
kini berada di depan sedang menggerakkan tangan kita untuk menggenggamnya.
sesungguhnya kita bisa.

selama ini ketakutan telah membunuh kita perlahan
dan kemerdekaan tercapai jika bebas dari rasa takut.
keyakinan harus dijaga.

melawanlah air mata!
melawanlah tangis jiwa!
melawanlah sakit hati!
melawanlah muak derita!
melawanlah takut langkah!
keluarkan semua.
bangkitkan semangat!
biar amarah merobek kepalsuan kadal-kadal.
hempaskan hela nafas lelah kita membasmi RAYAP-RAYAP gendut!
banjiri jalan-jalan dengan air mata dan amarah hingga ujung istana.
jangan,
jangan pernah membiarkan bara di dalam diri kita padam.
berkobarlah api perlawanan!
bergerak. bersatu. rebut hak-hak kita.
berdaulat!
lawan!

…
sebab reformasi omong kosong.
saatnya Revolusi.


heru suprapto
bekasi, 7/1/2007, 02.10.
dideklamasikan pertama kali oleh anak miskin di bundaran hi jakarta, di tengah festival seni perlawanan rakyat miskin kota, 7 januari 2007.